ISOLASI TEGANGAN TINGGI
Isolasi
adalah salah satu bentuk peralatan tegangan tinggi yang berfungsi sebagai
tahanan atau pelindung agar tidak terjadi tembus yang tidak diinginkan. Secara
umum isolasi dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu isolasi padat, cair dan gas.
Kemampuan isolasi dalam menahan tegangan mempunyai batas-batas tertentu sesuai
dengan material penyusun dan lingkungan sekitarnya. Apabila tegangan yang
diterapkan melebihi kuat medan isolasi maka akan terjadi tembus atau breakdown yang
menyebabkan terjadinya aliran arus antara peralatan tegangan tinggi. Kekuatan
isolasi gas dipengaruhi beberapa hal antara lain temperatur, kelembaban, angin,
tingkat kontaminasi udara dan besar tegangan yang diterapkan. Adanya kondisi
hujan asam, hujan basa, hujan garam, serta hujan di pegunungan akan
mempengaruhi kekuatan isolasi dalam mencegah terjadinya tembus antar dua
peralatan tegangan tinggi yang diisolasi. Pemodelan peralatan tegangan tinggi
dengan elektroda jarum homogen dan elektroda bola homogen digunakan untuk
mengetahui tegangan tembus gas antara keduanya jika terjadi perubahan terhadap
lingkungan sekitar, selama pengujian isolasi di laboratorium tegangan tinggi.
Contoh penggunaan peralatan tegangan tinggi yang menyerupai elektroda jarum adalah
arcing horn (busur api) yang dipasang di tiap ujung renteng isolator. Teknik
analisis data menggunakan cara analisis data kualitatif interpretatif dan
analisis statistik secara elementer. Kedua metode ini digunakan sejak awal
penelitian dimulai, diantaranya dalam memilih obyek, sample, mengklasifikasikan
simbol hingga kesimpulan akhir penelitian. Analisis data secara statistik
digunakan untuk menaksir prosentase tembus yang terjadi. Hasil percobaan
menunjukkan bahwa tegangan tembus udara berbanding lurus dengan tekanan,
prosentase karbondioksida dan kelembaban udara tetapi berbanding terbalik
dengan kenaikan temperatur. Kata kunci : Isolasi, tegangan tembus.
A. TEORI KEGAGALAN ISOLASI
2.1 Kegagalan pada Isolasi gas
2.1.1 Proses dasar ionisasi
Ion merupakan atom atau gabungan
atom yang memiliki muatan listrik, ion terbentuk apabila pada peristiwa kimia suatu atom unsur
menangkap atau melepaskan elektron. Proses terbentuknya ion dinamai dengan
ionisasi. Jika diantara dua elektroda yang dimasukkan dalam media gas
diterapkan tegangan V maka akan timbul suatu medan listrik E yang mempunyai
besar dan arah tertentu yang akan mengakibatkan elektron bebas mendapatkan
energi yang cukup kuat menuj kearah
anoda sehingga dapat merangsang timbulnya proses ionisasi .
2.1.2 Ionisasi karena Benturan Elektron
Jika gradien tegangan yang ada
cukup tinggi maka jumlah elektron yang diionisasikan akan lebih banyak
dibandingkan dengan jumlah ion yang ditangkap molekul oksigen. Tiap-tiap
elektron ini kemudian akan berjalan menuju anoda secara kontinu sambil membuat
benturan-benturan yang akan membebaskan elektron lebih banyak lagi. Ionisasi
karena benturan ini merupakan proses dasar yang penting dalam kegagalan udara
atau gas.
2.1.3 Mekanisme Kegagalan Gas
Proses kegagalan dalam gas ditandai
dengan adanya percikan secara tiba-tiba, percikan ini dapat terjadi karena
adanya pelepasan yang terjadi pada gas tersebut. Mekanisme kegagalan gas yang
disebut percikan adalah peralihan dari pelepasan tak bertahan sendiri ke
berbagai pelepasan yang bertahan sendiri[3]. Proses dasar yang paling penting
dalam kegagalan gas adalah proses ionisasi karena benturan, tetapi proses ini
tidak cukup untuk menghasilkan kegagalan. Proses lain yang terjadi dalam
kegagalan gas adalah proses atau mekanisme primer dan proses atau mekanisme
sekunder.
Proses yang terpenting dalam mekanisme
primer adalah proses katoda, pada proses ini diawali dengan pelepasan elektron
oleh suatu elektroda yang diuji, peristiwa ini akan mengawali terjadinya
kegagalan percikan (spark breakdown). Elektroda yang memiliki potensial
rendah (katoda) akan menjadi elektroda yang melepaskan elektron. Elektron awal
yang dibebaskan (dilepaskan) oleh katoda akan memulai terjadinya banjiran
elektron dari permukaan katoda. Jika jumlah elektron yang dibebaskan makin lama
makin banyak atau terjadinya peningkatan banjiran
maka arus akan bertambah dengan cepat
sampai terjadi perubahan pelepasan dan peralihan pelepasan ini akan menimbulkan
percikan (kegagalan) dalam gas.
2.2 Kegagalan Pada Isolasi Cair (Minyak)
Karakteristik pada isolasi minyak
trafo akan berubah jika terjadi ketidakmurnian di dalamnya. Hal ini akan
mempercepat terjadinya proses kegagalan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kegagalan isolasi antara lain adanya partikel padat, uap air dan gelembung gas.
2.2.1 Mekanisme Kegagalan Isolasi Cair
Teori mengenai kegagalan dalam zat
cair kurang banyak diketahui dibandingkan dengan teori kegagalan gas atau zat
padat. Hal tersebut disebabkan karena sampai saat ini belum didapatkan teori
yang dapat menjelaskan proses kegagalan dalam zat cair yang
benar-benar sesuai antara keadaan secara
teoritis dengan keadaan sebenarnya. Teori kegagalan zat isolasi cair dapat
dibagi menjadi empat jenis sebagai berikut:
a. Teori
Kegagalan Elektronik
Teori ini merupakan perluasan teori
kegagalan dalam gas, artinya proses kegagalan yang terjadi dalam zat cair
dianggap serupa dengan yang terjadi dalam gas. Oleh karena itu supaya terjadi
kegagalan diperlukan elektron awal yang dimasukkan kedalam zat cair. Elektron
awal inilah yang akan memulai proses kegagalan.
b. Teori Kegagalan Gelembung
Kegagalan gelembung atau kavitasi
merupakan bentuk kegagalan zat cair yang disebabkan oleh adanya
gelembung-gelembung gas di dalamnya.
c. Teori Kegagalan Bola Cair
Jika suatu zat isolasi mengandung
sebuah bola cair dari jenis cairan lain, maka dapat terjadi kegagalan akibat
ketakstabilan bola cair tersebut dalam medan listrik. Medan listrik akan
menyebabkan tetesan bola cair yang tertahan didalam minyak yang memanjang searah
medan dan pada medan yang kritis tetesan ini menjadi tidak stabil. Kanal
kegagalan akan menjalar dari ujung tetesan yang memanjang sehingga menghasilkan
kegagalan total.
d. Teori Kegagalan Tak Murnian Padat
Kegagalan tak murnian padat adalah
jenis kegagalan yang disebabkan oleh adanya butiran zat padat (partikel)
didalam isolasi cair yang akan memulai terjadi kegagalan.
2.2.2 Kekuatan Kegagalan
Dari semua teori yang membahas tentang
kegagalan zat cair tidak memperhitungkan hubungan antara panjang ruang celah
(sela) dengan kekuatan peristiwa kegagalan. Semuanya hanya membahas tentang
kekuatan kegagalan maksimum yang dicapai. Namun dari semua teori diatas dapat
ditarik suatu persamaan baru yang berisi komponen panjang ruang celah dan
komponen kekuatan peristiwa kegagalan pada benda cair, yaitu
Vb = Adn ........... (2-1)
dimana:
d : panjang ruang celah
A : konstanta
n : juga konstanta yang nilainya < 1
B. TEKNIK PENGAMBILAN DATA
Elektroda
Elektrode yang digunakan dalam
pengujian ini adalah elektrode bidang (plat). Elektrode bidang ini digunakan
pada pengujian isolasi udara maupun minyak trafo. Elektrode bidang ini terbuat
dari stainlees steel. Elektrode bidang dapat dilihat pada gambar 3.1 berikut
ini :

3.1 Rangkaian Pengujian
Rangkaian pembangkitan tegangan AC
pada gambar 3.2 adalah rangkaian yang digunakan untuk mengetahui tegangan
tembus pada pengujian. Rangkaian tersebut digunakan pada media isolasi udara
maupun media isolasi minyak trafo.

C. DISTRIBUSI TEGANGAN PADA
ISOLATOR RANTAI
Dua konduktor yang
dipisahkan oleh suatu dielektrik merupakan suatu susunan kapasitor. Satu unit
isolator hantaran udara ditunjukkan pada Gambar 3.1. Isolator tersebut
membentuk suatu susunan konduktor-dielektrik-konduktor. Oleh karena itu suatu
isolator dapat dianggap merupakan suatu kapasitor.

Gambar
3.1. Ekivalensi suatu unit isolator hantaran udara
Kapasitansi
Yang Dihasilkan Isolator Rantai
Isolator rantai yang digunakan
pada transmisi tegangan tinggi hantaran udara adalah isolator seperti pada
Gambar 3.1. Pada gambar tersebut terlihat adanya susunan logam-dielektrik-logam
yang membentuk susunan sebuah kapasitor. Untaian isolator tersebut akan
menghasilkan tiga jenis kapasitansi, yaitu:
a.
Kapasitansi masing-masing elemen isolator (C).
b.
Kapasitansi antara sambungan isolator dengan menara
transmisi atau bumi (Ce).
c.
Kapasitansi antara sambungan isolator dengan konduktor
tegangan tinggi (Ch).

Gambar 3.2. Susunan
isolator rantai transmisi hantaran udara
Oleh karena itu, isolator rantai dapat
dianggap merupakan susunan dari beberapa unit kapasitor yang terhubung seri
maupun paralel seperti ditunjukkan pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Bagian-bagian isolator rantai yang
membentuk susunan kapasitor
Distribusi Tegangan dengan Mengabaikan Ce
dan Ch
Pada suatu untaian isolator yang panjang, tegangan
tidak didistribusikan secara merata, hal ini disebabkan oleh karena pengaruh
kapasitansi Ce dan Ch. Dengan adanya kapasitansi Ce
dan Ch maka arus bocor tidak seluruhnya melewati tiap elemen, namun
akan ada arus bocor yang menuju struktur menara dan ke sambungan antara
isolator. Dengan mengabaikan kapasitansi antara sambungan isolator rantai
dengan tanah (Ce) dan kapasitansi antara sambungan isolator rantai
dengan konduktor fasa (Ch), maka akan sama keadaannya kalau isolator
tersebut dikenakan tegangan searah. Dalam tegangan searah, tegangan sepanjang
untai isolator didistribusikan secara merata. Dengan demikian pada rantai
isolator tersebut mengalir arus bocor dan tegangan pada satu elemen dari
isolator rantai adalah arus bocor pada
isolator tersebut dikalikan dengan tahanan tiap isolator. Rangkaian pengganti
dari untaian isolator ini terlihat seperti pada Gambar 3.4.

Gambar
3.4. Rangkaian pengganti isolator rantai dengan mengabaikan Ce dan Ch
Elemen
dari isolator rantai adalah sama sehingga distribusi tegangan pada setiap
elemen isolator adalah sama.
dimana: Vx =
tegangan pada elemen ke-x dari isolator rantai yang ditinjau
V = tegangan total yang dikenakan pada isolator
n =
jumlah elemen pada suatu isolator rantai
Distribusi
Tegangan dengan Memperhitungkan C dan Ce
Dalam keadaan isolator dibebani
tegangan akan timbul medan listrik diantara sambungan isolator dengan sambungan
isolator yang lain, antara sambungan isolator dengan menara, dan antara
sambungan isolator dengan kawat fasa.
Dibandingkan dengan besarnya
kapasitansi masing-masing elemen isolator (C), besarnya Ce jauh
lebih kecil, tetapi pada kenyataannya tidak dapat diabaikan karena mempengaruhi
distribusi tegangan pada isolator rantai. Misalnya sebuah rangkaian isolator
yang terdiri atas empat satuan elemen isolator sebagaimana terlihat pada Gambar
3.5.

Gambar
3.5. Rangkaian pengganti dari isolator rantai dengan memperhitungkan pengaruh C
dan Ce 
Dengan
menganggap semua elemen isolator adalah identik, dan kapasitansi masing-masing
sambungan elemen isolator terhadap menara sama besar.
Pada Gambar 3.5,
misalnya tegangan operasi adalah V, sedangkan jatuh tegangan melalui elemen
isolator adalah V1, V2, V3, dan V4
dimulai dari isolator paling atas mengarah ke kawat fasa, sehingga dapat
ditulis dengan persamaan :

Tujuannya adalah
untuk mengetahui besarnya tegangan operasi V terhadap tegangan Vn. Dari Gambar 3.5 di atas, besarnya arus yang
mengalir tiap elemen isolator dapat dicari.
Pada titik A,
persamaan arus adalah :
Juga,
dimana :
I1 = arus yang melalui isolator 1
I2 = arus yang melalui isolator 2
w
adalah frekuensi sudut jaringan
sehingga dari persamaan (3.3) dan (3.4) akan
didapat:
…………………………….…… (3.5)
Pada titik B,
persamaan arus adalah :
dimana :
dari persamaan
(3.6) dan persamaan (3.7) akan didapat nilai V3:
dengan menggantikan V2
dengan V1 akan diperoleh:
………………………………… (3.9)
Pada titik C, persamaan arus adalah
:

dimana :
dari persamaan (3.10)
dan (3.11) didapatkan nilai V4:
dengan
menggantikan V2 dan V3 dengan V1 akan
diperoleh:
…………………………. (3.13)
Dengan demikian
telah diperoleh besaran-besaran V2, V3, V4
terhadap V1 dengan rasio kapasitansi m, sehingga terlihat bahwa :
Oleh sebab itu elemen isolator
yang paling dekat ke kawat fasa akan memikul tegangan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan elemen isolator yang lain.
Distribusi
Tegangan dengan Memperhitungkan C, Ce, dan Ch
Besarnya
kapasitansi Ch dan kapasitansi Ce masih jauh lebih kecil
dibanding dengan nilai kapasitansi yang dimiliki elemen isolator C, namun
demikian kapasitansi Ch dan kapasitansi Ce tidak dapat
diabaikan pengaruhnya. Adanya kapasitansi Ce dan kapasitansi Ch
akan berpengaruh terhadap distribusi tegangan pada sambungan isolator, dimana
arus bocor akan mengalir ke arah struktur menara dan ke arah sambungan isolator
yang berasal dari konduktor tegangan tinggi, dengan demikian arus yang mengalir
di masing-masing elemen isolator tidak sama besar, maka tegangan di tiap-tiap
elemen isolator tidak sama.
Rangkaian
pengganti dari isolator rantai tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar
3.6. Rangkaian pengganti dari isolator rantai dengan memperhitungkan pengaruh
C, Ce, dan Ch 
Berdasarkan Gambar 3.6, pada
titik A diperoleh persamaan :
dari persamaan
(3.14) diperoleh V1
sehingga:
Pada titik B,
diperoleh persamaan :
dari persamaan
(3.16) diperoleh V2
sehingga :
Pada titik C,
diperoleh persamaan :
dari persamaan
(3.16) diperoleh V3
sehingga :
dan,
V = V1 + V2 +
V3 + V4 ………….………………………. (3.20)
sehingga dari
persamaan (3.20) didapat V4
V4 = V – (V1 +
V2 + V3) ……………….…………………. (3.21)
dimana, V adalah
tegangan sistem
Perataan Tegangan di Setiap Unit Isolator
Ada
beberapa metode didalam perataan tegangan disetiap unit isolator, yaitu :
1). Dengan mengatur besar nilai kapasitansi
sambungan isolator terhadap bumi (Ce)
Kapasitansi
Ce diupayakan sekecil mungkin, dengan demikian arus bocor yang
menuju struktur menara (bumi) akan sangat kecil dan memungkinkan untuk
diabaikan. Di dalam mendapatkan nilai kapasitansi Ce yang sangat
kecil adalah dengan mengatur jarak antara sambungan isolator terhadap menara
pendukung (bumi), dimana jarak berbanding terbalik dengan nilai kapasitansi
yang dihasilkan, oleh sebab itu jika jarak antara menara dan sambungan isolator
diperbesar akan diperoleh nilai kapasitansi Ce yang sangat kecil.
2). Dengan grading
tiap isolator
Nilai kapasitansi sendiri dari
isolator disesuaikan berdasarkan tingkat tegangan. Isolator yang memikul
tegangan yang paling besar yaitu isolator paling dekat dengan konduktor fasa,
isolator yang digunakan adalah isolator yang memiliki nilai kapasitansi sangat
kecil. Dan isolator yang memikul tegangan paling kecil, maka digunakan isolator
yang memiliki nilai kapasitansi yang besar. Dengan demikian tegangan di setiap
unit isolator akan sama.
3). Dengan menggunakan Guard
Ring
Tegangan
di setiap unit isolator dapat dibuat sama dengan cara menggunakan Guard Ring.
Ada beberapa bentuk yang umum dijumpai, antara lain : Ring, 8-shaped, horn shaped. Metode
perataan dengan menggunakan horn shaped, sering disebut dengan
bentuk busur tanduk.

Gambar
3.7 Perataan tegangan di setiap isolator
dengan menggunakan guard ring berupa busur tanduk
Prinsip
perataan tegangan dengan menggunakan busur tanduk ini adalah penyeimbangan arus bocor, sehingga akan
menghilangkan atau mengurangi arus bocor yang menuju ke arah struktur menara.
Pengaturannya dapat dilihat pada Gambar 3.7 di atas. Untuk semua isolator yang
identik, besar kapasitansi C sama. Demikian pula semua kapasitansi ke bumi (Ce)
adalah sama besarnya. Tegangan di tiap isolator mempunyai busur tanduk yang
sama, dengan demikian arus yang melaluinya juga sama besar yaitu I.
Dari Gambar 3.7,
persamaan arus yang melalui isolator paling atas adalah
Ia + I = i1 +
I ………….………………………. (3.22)
dan dengan perata tegangan menggunakan busur tanduk,
dibuat pendekatan bahwa
i1 = Ia ………..…….…………………………………… (3.23)
i2 = Ib …………………………………………………… (3.24)
i3 = Ic …………….………………..…..
(3.25)
dari Gambar 3.7,
potensial yang disebabkan Ia adalah 3V
dari persamaan
(3.23), (3.26), dan (3.27) diperoleh Ch1
dari Gambar 3.7,
potensial yang disebabkan Ib adalah 2V
dari persamaan
(3.25), (3.29), dan (3.30), diperoleh Ch2
dari Gambar 3.7,
potensial yang disebabkan Ic adalah V
dari persamaan
(3.25), (3.32), dan (3.33), diperoleh Ch3
Dengan membuat sejumlah n isolator,
maka akan diperoleh persamaan kapasitansi ke-x dari suatu untaian isolator,
yaitu:
dimana n =
jumlah isolator
x = isolator ke-x
mas
BalasHapusgambarnya kok ga nampak
sumbernya dari mana ya?