Sistem Proteksi Petir Internal dan Ekternal
Nama : Irwan Rinaldi Saragi
Nim : 5103331017
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan
Abstrak
Sistem proteksi petir
merupakan suatu sistem yang sangat diperlukan pada saat ini, mengingat
peralatan listrik semakin berkembang dengan pesat. Sistem ini melindungi kita
baik dan peralatan listrik kita dari sambaran langsung maupun sambaran tidak
langsung (lightning electromagnetic
pulse). Di Indonesia sendiri sebagai kawasan dengan intensitas petir
yang tinggi, sistem ini mutlak diperlukan. Secara umum, sistem proteksi petir
terdiri dari dua yaitu sistem proteksi eksternal dan system proteksi internal.
Dalam tulisan ini dibahas mengenai jenis-jenis proteksi terhadap petir baik
internal maupun eksternal yang umumnya banyak digunakan manusia.
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Pada masa sekarang ini masih sering terdengar ada orang
meninggal karena tersambar petir, entah itu anak-anak, muda maupun dewasa. Di
Indonesia sendiri kejadian semacam ini sangat sering terdengar. Seperti yang
terjadi di Depok, seorang anak meninggal akibat tersambar petir. Siang itu
cuaca mendung dan hujan gerimis.
Di
dalam rumah, anak laki-laki itu sedang menonton televisi bersama anggota
keluarga lain. Tiba-tiba kilat menyambar antena televisi dan masuk ke dalam
rumah.
Gambar
1 Peta Distribusi Petir di Dunia

Gambar diatas adalah Peta Distribusi Petir di Dunia, daerah
hitam di Afrika Tengah adalah tempat terjadinya petir dengan intensitas
tertinggi di dunia, daerah yang berwarna merah, oranye dan kuning adalah daerah
dengan intensitas petir tinggi sedangkan daerah yang berwarna putih atau
berwarna biru adalah daerah dengan intensitas rendah.
Dari
gambar Peta Distribusi Petir di Dunia diatas terlihat bahwa Indonesia
termasuk dalam kategori daerah dengan intensitas petir tinggi. Menurut Prof Dr
Ir H Djuheri, MM, salah satu daerah di Indonesia, yakni wilayah Bogor, Jawa
Barat pernah tercatat sebagai wilayah yang memiliki sambaran petir per tahun
tertinggi di dunia per harinya, yakni sekitar 322 hari atau 88 persen per
tahun.
Tinjauan
Pustaka
Menurut Dr. Ir. Dipl. Ing. Reynaldo Zoro, ahli petir dan
direktur PT Lapi Elpatsindo, ada tiga syarat untuk timbulnya petir.
Ada udara naik, kelembapan, dan partikel
bebas atau aerosol. Ketiga elemen ini akan menyebabkan timbullah muatan dalam
awan cumulonimbus. Umumnya muatan negatif terkumpul dibagian bawah dan ini
menyebabkan terinduksinya muatan positif
diatas permukaan tanah, sehingga membentuk medan listrik antara awan dan tanah. Jika
muatan listrik cukup besar dan kuat medan
listrik di udara dilampaui, maka terjadi pelepasan muatan berupa petir atau
terjadi sambaran yang bergerak dengan kecepatan cahaya dengan efek
merusak
yang sangat dahsyat karena kekuatannya.
Menurut Guru Besar Bidang Ilmu Teknik Fisika,Universitas
Nasional (Unas), Prof Djuheri, kilatan petir
mengandung muatan listrik 100 juta volt, Energi sebesar itu bisa memanaskan
suhu udara hingga mencapai 40 ribu derajat Celsius. Bisa kita bayangkan, bagaimana
jika petir tersebut menyambar makhluk hidup. Sambaran petir terbagi menjadi dua
yaitu sambaran langsung dan sambaran tidak langsung. Sambaran langsung terjadi
karena arus impuls yang mengalir ke tanah, sedangkan sambaran tidak langsung
terjadi karena pancaran energi dari gelombang elektromagnetiknya atau lightning
electromagnetic pulse. Apabila petir ini menyambar sebuah gedung maka
jumlah rata-rata frekuensi sambaran petir dapat
dihitung:
1.
Sambaran Langsung
Nilai
rata-rata frekuensi sambaran petir langsung pertahun dapat digitung dengan
rumus:
Nd
4.102.T1.26 (ab 6h(a b) 9 h2 )(2.4)
Dimana:
a =
Panjang atap gedung (m)
b =
Lebar atap gedung (m)
h =
Tinggi atap gedung (m)
T =
hari guruh pertahun
Nd =
Jumlah rata-rata frekuensi sambaran petir langsung pertahun
2.
Sambaran Tidak Langsung
Rata-rata
frekuensi tahunan Nn dari kilat yang mengenai tanah dekat gedung dapat dihitung
dengan perkalian kerapatan kilat ke tanah pertahun Ng dengan cakupan daerah di
sekitar gedung yang disambar Ag
Nn =
Ng.Ag
Daerah
di sekitar sambaran petir (Ag) adalah daerah disekitar gedung dimana suatu
sambaran ke tanah menyebabkan suatu tambahan lokasi potensial tanah yang dapat
mempengaruhi gedung.
Mengacu
pada IEC (International Electrotechnical Commission) TC 81/1989 tentang
konsep Lightning Protection Zone (LPZ), sistem proteksi petir yang
sempurna terdiri dari 3 bagian :
1.
Proteksi Eksternal, yaitu instalasi dan alat-alat di luar sebuah struktur untuk
menangkap dan menghantar arus petir ke sistem pentanahan atau berfungsi sebagai
ujung tombak penangkap muatan listrik/arus petir di tempat tertinggi. Proteksi
Eksternal yang baik terdiri atas air terminal/interceptor, down
conductor, dan ekuipotensialisasi
2.
Proteksi Pentanahan, merupakan bagian terpenting dalam instalasi sistem
proteksi petir. Kesulitan pada sistem pentanahan biasanya karena berbagai macam
jenis tanah. Hal ini dapat diatasi dengan perencanaan dan teknik penerapan yang
tepat, serta menghubungkan semua metal (ekuipotensialisasi) dengan sistem
pentanahan, sesuai dengan IEC TC 81 Bab 2.3.
3.
Proteksi Internal, merupakan proteksi peralatan elektronik terhadap efek dari
arus petir. Terutama efek medan magnet dan medan listrik pada
instalasi metal atau sistem listrik. Sesuai dengan standar DIV VDE 0185, IEC 1024-1.
Proteksi Internal terdiri atas pencegahan terhadap dampak sambaran langsung,
pencegahan terhadap dampak sambaran tidak langsung, dan ekuipotensialisasi.
PEMBAHASAN
Secara garis besar, berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan oleh ERICO Lightning Technologies yang telah dilakukan selama
60 tahun, ada enam langkah untuk melindungi suatu infrastruktur dari sambaran
petir yang diistilahkan ”SIX POINT PLAN”. Tujuan dari ”SIX POINT PLAN” ini
adalah untuk menyiapkan sebuah perlindungan yang efektif dan handal terhadap
serangan sambaran petir.
Keenam
langkah tersebut yaitu,
1.
Menangkap Petir
Dengan
cara menyediakan sistem penerimaan yang dapat dengan cepat menmyambut luncuran
arus petir, lebih cepat dari sekelilingnya dan memproteksi secara tepat dengan
memperhitungkan besaran petir.
2.
Menyalurkan Petir
Luncuran
petir yang telah ditangkap dilasurkan ke tanah/arde secara aman tanpa
mengakibatkan terjadinya loncatan listrik ke bangunan atau manusia.
3.
Menampung Petir
Dengan
cara membuat sistem pentanahan sebaik mungkin.
4.
Proteksi Grounding
5.
Proteksi Jalur Power
6.
Proteksi Jalur Data
Keenam
langkah yang tergabung dalam “SIX POINT PLAN” diatas merupakan representasi
dari sistem proteksi petir yang sesuai dengan standar IEC (International
Electrotechnical Commision) TC 81/1989 yang bersifat proteksi internal
maupun proteksi eksternal.
1.
Sistem Proteksi Petir Eksternal
Sistem
proteksi petir eksternal yang sering digunakan terdiri dari tiga bagian yaitu Air
Terminal, Down Conductor dan Earthing Systems.
a. Air
Terminal
Air
Terminal merupakan
bagian dari sistem proteksi petir eksternal yang bertujuan untuk menangkap
kilatan petir. Air Terminal harus dipasang pada titik tertinggi dari
suatu bangunan atau peralatan yang ingin dilindungi dari sambaran petir.
Sebagai contohnya, jika sistem proteksi petir diaplikasikan dalam sebuah
antena. Maka Air Terminal harus dipasang diatas bagian tertinggi dari
antena tersebut, demikian juga jika dipasang pada gedung atau rumah.
Pemasangannya dipengaruhi oleh keadaan atap gedung yang akan diamankan. Untuk
bangunan dengan atap datar, yaitu bangunan yang memiliki selisih tinggi antara
bumbungan dan lisplang kurang dari 1 meter maka sistem yang sesuai adalah
sistem faraday yaitu sistem penangkal petir keliling atap datar. Sedangkan
untuk atap runcing atau selisih antara tinggi bumbungan dan lisplang lebih dari
1 meter, maka sistem yang sesuai adalah sistem franklin yaitu sistem penangkal
petir dengan elektroda batang (finial).
Pada
awalnya ruang proteksi dari suatu penangkal petir berbentuk kerucut dengan
sudut puncak kerucut berkisar antara 300 hingga
350. pemilihan sudut proteksi ini
menyatakan tingkat proteksi yang kita inginkan. Semakin kecil sudut proteksi
semakin tinggi tingkat proteksi yang diperoleh (semakin baik proteksinya),
tetapi semakin mahal biayanya.
Gambar
3 Ruang Proteksi Konvensional
Ruang
proteksi model kedua adalah ruang proteksi menurut model elektro geometri,
yaitu berbentuk kerucut juga seperti konsep konvensional, hanya saja bidang
miring dari kerucut tersebut melengkung dengan jari-jari tertentu. Besarnya
jari-jari sama dengan besarnya jarak sambar dari lidah petir. Jarak sambar
(kemampuan menyambar atau menjangkau suatu benda) dari lidah petir ini
ditentukan oleh besarnya arus petir yang terjadi. Oleh karena itu, derajat
kelengkungan dari bidang miring kerucut dipengaruhi oleh besarnya arus petir
yang terjadi.
Gambar
4 Konsep Ruang Proteksi Menurut Elektrogeometri Model

b.
Down Conductor
Down
Conductor adalah
bagian dari sistem proteksi petir eksternal yang menghantarkan arus yang
bersumber dari kilatan petir dari Air Terminal System ke Earthing
Termination System. Down Conductor harus dipasang vertical tegak
lurus sehingga tercipta jarak terpendek antara ujung bangunan dengan bumi.
Gambar
5 Tabel Material yang Digunakan untuk Membuat Down Conductor

c.
Earthing Systems
Earthing
Systems yaitu bagian
dari sistem proteksi petir eksternal yang berfungsi untuk mengalirkan arus dari
petir ke tanah. Ujung Down Conductor dihubungkan dengan tahanan tanah
yang besarnya maksimum bernilai 5 ohm. Untuk mendapatkan tahanan pembumian yang
kecil, diperlukan elektroda pembumian.
Prinsip
dasar untuk memperoleh tahanan pembumian yang kecil adalah dengan membuat
permukaan elektroda bersentuhan dengan tanah sebesar mungkin.
Fungsi
pengetanahan adalah untuk membatasi tegangan yang timbul diantara peralatan
dengan peralatan, peralatan dengan tanah dan meratakan gradien tegangan yang
timbul pada permukaan tanah akibat arus kesalahan yang mengalir dalam tanah.
2. Sistem
Proteksi Petir Internal
Berdasarkan pengertian dari IEC (International
Electrotechnical Commission) TC 81/1989 tentang konsep Lightning
Protection Zone (LPZ), sistem proteksi petir internal adalah proteksi
peralatan elektronik terhadap efek dari arus petir. Terutama efek medan magnet dan medan
listrik pada instalasi metal atau sistem listrik. Proteksi Internal terdiri
atas pencegahan terhadap dampak sambaran langsung, pencegahan terhadap dampak
sambaran tidak langsung, dan ekuipotensialisasi. Ada banyak sistem yang dapat digunakan
sebagai proteksi petir internal, namun pada tulisan ini penulis hanya akan
membahas mengenai Arrester dan sangkar faraday.
a. Arrester
Gangguan surja petir merupakan salah satu gangguan alamiah
yang akan dialami sistem tenaga listrik, dan salah satu metode untuk
mengatasinya yaitu dengan menggunakan peralatan proteksi arrester. Arrester
ini bekerja dengan mengimplementasikan resistor nonlinier yang mempunyai
nilai yang besar untuk peralatan listrik dari tegangan yang berlebihan dari
petir. Pada saat sparkover maka tegangan akan turun dan tegangan residu
arus discharge. Besarnya nilai sparkover dan tegangan residu
arusnya tergantung dari karakteristik arrester yang digunakan.
Seperti dalam gambar dibawah ini, pada saat tegangan surjanya 51 kV maka dalam
waktu sepersekian detik nilai tegangannya akan turun sesuai dengan tegangan residu
dari arrester.
Gambar
6 Contoh Respon Simulasi Arrester SiC

Arrester
ini sangat bermanfaat jika diaplikasikan pada peralatan-peralatan elektronika
di suatu bangunan, mengingat efek yang ditimbulkan petir yang sangat besar
terhadap peralatan elektronika.
Gambar
7 Contoh Aplikasi Arrester

b.
Sangkar Faraday
Sangkar
faraday adalah suatu piranti yang dimanfaatkan menjaga agar medan listrik di dalam ruangan tetap nol
meskipun di sekelilingnya terdapat gelombang elektromagnetik dan arus listrik.
Piranti tersebut berupa konduktor yang dipasang sedemikian rupa sehingga
ruangannya terlingkupi oleh konduktor tersebut. Sangkar faraday ini diilhami oleh
penemuan Michel Faraday, seorang ahli fisika dan kimia berkebangsaan Inggris.
Faraday menyatakan bahwa:
“Muatan
yang ada pada sangkar konduktor hanya terkumpul pada bagian luar konduktor saja
tidak berpengaruh terhadap bagian dalam”.
Efek
sangkar Faraday adalah suatu fenomena kelistrikan yang disebabkan oleh adanya
interaksi partikel subatomik yang bermuatan (seperti : proton, elektron).
Ketika ada medan listrik yang mengenai sangkar
konduktor maka akan ada gaya yang menyebabkan
partikel bermuatan mengalami perpindahan tempat, gerakan perpindahan tempat
partikel bermuatan akan menghasilkan medan
listrik yang berlawanan dengan medan listrik
yang mengenainya sehingga tidak ada medan
listrik yang masuk kedalam sangkar konduktor tersebut.
Pada
saat ini, banyak sekali piranti-piranti yang menggunakan faraday cage untuk
melindungi peralatan didalamnya dari pengaruh arus listrik dan gelombang elektromagnet
yang tinggi, misalnya mobile phones, coaxial cables, RFID,
beberapa bangunan nasional di Amerika Serikat, mobil, pesawat, dan
peralatan-peralatan lainnya. Dengan pemanfaatan sangkar faraday ini,
infrastruktur-infrastruktur maupun peralatan-peralatan elektronik dapat
terhindar dari pengaruh yang ditimbulkan oleh sambaran petir.
Gambar
3.8 Sangkar Faraday

Kesimpulan
1.
Secara umum ada empat langkah proteksi petir eksternal, yaitu menangkap petir,
menampung petir, menyalurkan petir, dan proteksi petir, yang keempat hal itu
direpresentasikan oleh air terminal, down conductor dan earthing
systems.
2.
Selain berfungsi untuk melindungi dari sambaran petir secara langsung, system
proteksi internal juga dapat digunakan untuk melindungi dari sambaran petir
tidak langsung (lightning electromagnetic pulse), sebagai contohnya
adalah pemanfaatan arrester dan sangkar faraday yang dapat digunakan
untuk
Daftar Pustaka
Abdul Syakur, dkk.Sistem Proteksi Penangkal Petir pada Gedung
Widya Puraya.(Online).( http://www.elektro.undip.ac.id/transmisi/jun06/7, diakses tanggal
25 oktober 2007)
Alvarion.Lightning Protection.(Online),(www.buildingdesign.co.uk, diakses tanggal
25 oktober 2007)
http://coretancempluk.files.wordpress.com/2010/02/tjurnal-t3.pdf
