Rabu, 06 Juni 2012

jurnal Sistem Proteksi Petir Internal dan Ekternal


Sistem Proteksi Petir Internal dan Ekternal

Nama : Irwan Rinaldi Saragi
Nim : 5103331017
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan



Abstrak
Sistem proteksi petir merupakan suatu sistem yang sangat diperlukan pada saat ini, mengingat peralatan listrik semakin berkembang dengan pesat. Sistem ini melindungi kita baik dan peralatan listrik kita dari sambaran langsung maupun sambaran tidak langsung (lightning electromagnetic pulse). Di Indonesia sendiri sebagai kawasan dengan intensitas petir yang tinggi, sistem ini mutlak diperlukan. Secara umum, sistem proteksi petir terdiri dari dua yaitu sistem proteksi eksternal dan system proteksi internal. Dalam tulisan ini dibahas mengenai jenis-jenis proteksi terhadap petir baik internal maupun eksternal yang umumnya banyak digunakan manusia.









PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada masa sekarang ini masih sering terdengar ada orang meninggal karena tersambar petir, entah itu anak-anak, muda maupun dewasa. Di Indonesia sendiri kejadian semacam ini sangat sering terdengar. Seperti yang terjadi di Depok, seorang anak meninggal akibat tersambar petir. Siang itu cuaca mendung dan hujan gerimis.
Di dalam rumah, anak laki-laki itu sedang menonton televisi bersama anggota keluarga lain. Tiba-tiba kilat menyambar antena televisi dan masuk ke dalam rumah.
Gambar 1 Peta Distribusi Petir di Dunia

Gambar diatas adalah Peta Distribusi Petir di Dunia, daerah hitam di Afrika Tengah adalah tempat terjadinya petir dengan intensitas tertinggi di dunia, daerah yang berwarna merah, oranye dan kuning adalah daerah dengan intensitas petir tinggi sedangkan daerah yang berwarna putih atau berwarna biru adalah daerah dengan intensitas rendah.
Dari gambar Peta Distribusi Petir di Dunia diatas terlihat bahwa Indonesia termasuk dalam kategori daerah dengan intensitas petir tinggi. Menurut Prof Dr Ir H Djuheri, MM, salah satu daerah di Indonesia, yakni wilayah Bogor, Jawa Barat pernah tercatat sebagai wilayah yang memiliki sambaran petir per tahun tertinggi di dunia per harinya, yakni sekitar 322 hari atau 88 persen per tahun.


Tinjauan Pustaka

Menurut Dr. Ir. Dipl. Ing. Reynaldo Zoro, ahli petir dan direktur PT Lapi Elpatsindo, ada tiga syarat untuk timbulnya petir.

Ada udara naik, kelembapan, dan partikel bebas atau aerosol. Ketiga elemen ini akan menyebabkan timbullah muatan dalam awan cumulonimbus. Umumnya muatan negatif terkumpul dibagian bawah dan ini menyebabkan  terinduksinya muatan positif diatas permukaan tanah, sehingga membentuk medan listrik antara awan dan tanah. Jika muatan listrik cukup besar dan kuat medan listrik di udara dilampaui, maka terjadi pelepasan muatan berupa petir atau terjadi sambaran yang bergerak dengan kecepatan cahaya dengan efek
merusak yang sangat dahsyat karena kekuatannya.
Menurut Guru Besar Bidang Ilmu Teknik Fisika,Universitas Nasional (Unas), Prof Djuheri, kilatan petir mengandung muatan listrik 100 juta volt, Energi sebesar itu bisa memanaskan suhu udara hingga mencapai 40 ribu derajat Celsius. Bisa kita bayangkan, bagaimana jika petir tersebut menyambar makhluk hidup. Sambaran petir terbagi menjadi dua yaitu sambaran langsung dan sambaran tidak langsung. Sambaran langsung terjadi karena arus impuls yang mengalir ke tanah, sedangkan sambaran tidak langsung terjadi karena pancaran energi dari gelombang elektromagnetiknya atau lightning electromagnetic pulse. Apabila petir ini menyambar sebuah gedung maka jumlah rata-rata frekuensi sambaran petir dapat
dihitung:
1. Sambaran Langsung
Nilai rata-rata frekuensi sambaran petir langsung pertahun dapat digitung dengan rumus:
Nd 4.102.T1.26 (ab 6h(a b) 9h2 )(2.4)
Dimana:
a = Panjang atap gedung (m)
b = Lebar atap gedung (m)
h = Tinggi atap gedung (m)
T = hari guruh pertahun
Nd = Jumlah rata-rata frekuensi sambaran petir langsung pertahun
2. Sambaran Tidak Langsung
Rata-rata frekuensi tahunan Nn dari kilat yang mengenai tanah dekat gedung dapat dihitung dengan perkalian kerapatan kilat ke tanah pertahun Ng dengan cakupan daerah di sekitar gedung yang disambar Ag
Nn = Ng.Ag

Daerah di sekitar sambaran petir (Ag) adalah daerah disekitar gedung dimana suatu sambaran ke tanah menyebabkan suatu tambahan lokasi potensial tanah yang dapat mempengaruhi gedung.
Mengacu pada IEC (International Electrotechnical Commission) TC 81/1989 tentang konsep Lightning Protection Zone (LPZ), sistem proteksi petir yang sempurna terdiri dari 3 bagian :
1. Proteksi Eksternal, yaitu instalasi dan alat-alat di luar sebuah struktur untuk menangkap dan menghantar arus petir ke sistem pentanahan atau berfungsi sebagai ujung tombak penangkap muatan listrik/arus petir di tempat tertinggi. Proteksi Eksternal yang baik terdiri atas air terminal/interceptor, down conductor, dan ekuipotensialisasi
2. Proteksi Pentanahan, merupakan bagian terpenting dalam instalasi sistem proteksi petir. Kesulitan pada sistem pentanahan biasanya karena berbagai macam jenis tanah. Hal ini dapat diatasi dengan perencanaan dan teknik penerapan yang tepat, serta menghubungkan semua metal (ekuipotensialisasi) dengan sistem pentanahan, sesuai dengan IEC TC 81 Bab 2.3.
3. Proteksi Internal, merupakan proteksi peralatan elektronik terhadap efek dari arus petir. Terutama efek medan magnet dan medan listrik pada instalasi metal atau sistem listrik. Sesuai dengan standar DIV VDE 0185, IEC 1024-1. Proteksi Internal terdiri atas pencegahan terhadap dampak sambaran langsung, pencegahan terhadap dampak sambaran tidak langsung, dan ekuipotensialisasi.







PEMBAHASAN

Secara garis besar, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh ERICO Lightning Technologies yang telah dilakukan selama 60 tahun, ada enam langkah untuk melindungi suatu infrastruktur dari sambaran petir yang diistilahkan ”SIX POINT PLAN”. Tujuan dari ”SIX POINT PLAN” ini adalah untuk menyiapkan sebuah perlindungan yang efektif dan handal terhadap serangan sambaran petir.
Keenam langkah tersebut yaitu,
1. Menangkap Petir
Dengan cara menyediakan sistem penerimaan yang dapat dengan cepat menmyambut luncuran arus petir, lebih cepat dari sekelilingnya dan memproteksi secara tepat dengan memperhitungkan besaran petir.
2. Menyalurkan Petir
Luncuran petir yang telah ditangkap dilasurkan ke tanah/arde secara aman tanpa mengakibatkan terjadinya loncatan listrik ke bangunan atau manusia.
3. Menampung Petir
Dengan cara membuat sistem pentanahan sebaik mungkin.
4. Proteksi Grounding
5. Proteksi Jalur Power
6. Proteksi Jalur Data
Keenam langkah yang tergabung dalam “SIX POINT PLAN” diatas merupakan representasi dari sistem proteksi petir yang sesuai dengan standar IEC (International Electrotechnical Commision) TC 81/1989 yang bersifat proteksi internal maupun proteksi eksternal.
1. Sistem Proteksi Petir Eksternal
Sistem proteksi petir eksternal yang sering digunakan terdiri dari tiga bagian yaitu Air Terminal, Down Conductor dan Earthing Systems.
a. Air Terminal
Air Terminal merupakan bagian dari sistem proteksi petir eksternal yang bertujuan untuk menangkap kilatan petir. Air Terminal harus dipasang pada titik tertinggi dari suatu bangunan atau peralatan yang ingin dilindungi dari sambaran petir. Sebagai contohnya, jika sistem proteksi petir diaplikasikan dalam sebuah antena. Maka Air Terminal harus dipasang diatas bagian tertinggi dari antena tersebut, demikian juga jika dipasang pada gedung atau rumah. Pemasangannya dipengaruhi oleh keadaan atap gedung yang akan diamankan. Untuk bangunan dengan atap datar, yaitu bangunan yang memiliki selisih tinggi antara bumbungan dan lisplang kurang dari 1 meter maka sistem yang sesuai adalah sistem faraday yaitu sistem penangkal petir keliling atap datar. Sedangkan untuk atap runcing atau selisih antara tinggi bumbungan dan lisplang lebih dari 1 meter, maka sistem yang sesuai adalah sistem franklin yaitu sistem penangkal petir dengan elektroda batang (finial).
Pada awalnya ruang proteksi dari suatu penangkal petir berbentuk kerucut dengan sudut puncak kerucut berkisar antara 300 hingga 350. pemilihan sudut proteksi ini menyatakan tingkat proteksi yang kita inginkan. Semakin kecil sudut proteksi semakin tinggi tingkat proteksi yang diperoleh (semakin baik proteksinya), tetapi semakin mahal biayanya.



Gambar 3 Ruang Proteksi Konvensional

     

Ruang proteksi model kedua adalah ruang proteksi menurut model elektro geometri, yaitu berbentuk kerucut juga seperti konsep konvensional, hanya saja bidang miring dari kerucut tersebut melengkung dengan jari-jari tertentu. Besarnya jari-jari sama dengan besarnya jarak sambar dari lidah petir. Jarak sambar (kemampuan menyambar atau menjangkau suatu benda) dari lidah petir ini ditentukan oleh besarnya arus petir yang terjadi. Oleh karena itu, derajat kelengkungan dari bidang miring kerucut dipengaruhi oleh besarnya arus petir yang terjadi.
Gambar 4 Konsep Ruang Proteksi Menurut Elektrogeometri Model


b. Down Conductor
Down Conductor adalah bagian dari sistem proteksi petir eksternal yang menghantarkan arus yang bersumber dari kilatan petir dari Air Terminal System ke Earthing Termination System. Down Conductor harus dipasang vertical tegak lurus sehingga tercipta jarak terpendek antara ujung bangunan dengan bumi.
Gambar 5 Tabel Material yang Digunakan untuk Membuat Down Conductor

c. Earthing Systems
Earthing Systems yaitu bagian dari sistem proteksi petir eksternal yang berfungsi untuk mengalirkan arus dari petir ke tanah. Ujung Down Conductor dihubungkan dengan tahanan tanah yang besarnya maksimum bernilai 5 ohm. Untuk mendapatkan tahanan pembumian yang kecil, diperlukan elektroda pembumian.
Prinsip dasar untuk memperoleh tahanan pembumian yang kecil adalah dengan membuat permukaan elektroda bersentuhan dengan tanah sebesar mungkin.
Fungsi pengetanahan adalah untuk membatasi tegangan yang timbul diantara peralatan dengan peralatan, peralatan dengan tanah dan meratakan gradien tegangan yang timbul pada permukaan tanah akibat arus kesalahan yang mengalir dalam tanah.
2. Sistem Proteksi Petir Internal
Berdasarkan pengertian dari IEC (International Electrotechnical Commission) TC 81/1989 tentang konsep Lightning Protection Zone (LPZ), sistem proteksi petir internal adalah proteksi peralatan elektronik terhadap efek dari arus petir. Terutama efek medan magnet dan medan listrik pada instalasi metal atau sistem listrik. Proteksi Internal terdiri atas pencegahan terhadap dampak sambaran langsung, pencegahan terhadap dampak sambaran tidak langsung, dan ekuipotensialisasi. Ada banyak sistem yang dapat digunakan sebagai proteksi petir internal, namun pada tulisan ini penulis hanya akan membahas mengenai Arrester dan sangkar faraday.
a. Arrester
Gangguan surja petir merupakan salah satu gangguan alamiah yang akan dialami sistem tenaga listrik, dan salah satu metode untuk mengatasinya yaitu dengan menggunakan peralatan proteksi arrester. Arrester ini bekerja dengan mengimplementasikan resistor nonlinier yang mempunyai nilai yang besar untuk peralatan listrik dari tegangan yang berlebihan dari petir. Pada saat sparkover maka tegangan akan turun dan tegangan residu arus discharge. Besarnya nilai sparkover dan tegangan residu arusnya tergantung dari karakteristik arrester yang digunakan. Seperti dalam gambar dibawah ini, pada saat tegangan surjanya 51 kV maka dalam waktu sepersekian detik nilai tegangannya akan turun sesuai dengan tegangan residu dari arrester.

Gambar 6 Contoh Respon Simulasi Arrester SiC




Arrester ini sangat bermanfaat jika diaplikasikan pada peralatan-peralatan elektronika di suatu bangunan, mengingat efek yang ditimbulkan petir yang sangat besar terhadap peralatan elektronika.

Gambar 7 Contoh Aplikasi Arrester


b. Sangkar Faraday
Sangkar faraday adalah suatu piranti yang dimanfaatkan menjaga agar medan listrik di dalam ruangan tetap nol meskipun di sekelilingnya terdapat gelombang elektromagnetik dan arus listrik. Piranti tersebut berupa konduktor yang dipasang sedemikian rupa sehingga ruangannya terlingkupi oleh konduktor tersebut. Sangkar faraday ini diilhami oleh penemuan Michel Faraday, seorang ahli fisika dan kimia berkebangsaan Inggris. Faraday menyatakan bahwa:
“Muatan yang ada pada sangkar konduktor hanya terkumpul pada bagian luar konduktor saja tidak berpengaruh terhadap bagian dalam”. 

Efek sangkar Faraday adalah suatu fenomena kelistrikan yang disebabkan oleh adanya interaksi partikel subatomik yang bermuatan (seperti : proton, elektron). Ketika ada medan listrik yang mengenai sangkar konduktor maka akan ada gaya yang menyebabkan partikel bermuatan mengalami perpindahan tempat, gerakan perpindahan tempat partikel bermuatan akan menghasilkan medan listrik yang berlawanan dengan medan listrik yang mengenainya sehingga tidak ada medan listrik yang masuk kedalam sangkar konduktor tersebut.
Pada saat ini, banyak sekali piranti-piranti yang menggunakan faraday cage untuk melindungi peralatan didalamnya dari pengaruh arus listrik dan gelombang elektromagnet yang tinggi, misalnya mobile phones, coaxial cables, RFID, beberapa bangunan nasional di Amerika Serikat, mobil, pesawat, dan peralatan-peralatan lainnya. Dengan pemanfaatan sangkar faraday ini, infrastruktur-infrastruktur maupun peralatan-peralatan elektronik dapat terhindar dari pengaruh yang ditimbulkan oleh sambaran petir.

Gambar 3.8 Sangkar Faraday


Kesimpulan
1. Secara umum ada empat langkah proteksi petir eksternal, yaitu menangkap petir, menampung petir, menyalurkan petir, dan proteksi petir, yang keempat hal itu direpresentasikan oleh air terminal, down conductor dan earthing systems.
2. Selain berfungsi untuk melindungi dari sambaran petir secara langsung, system proteksi internal juga dapat digunakan untuk melindungi dari sambaran petir tidak langsung (lightning electromagnetic pulse), sebagai contohnya adalah pemanfaatan arrester dan sangkar faraday yang dapat digunakan untuk










Daftar Pustaka

Abdul Syakur, dkk.Sistem Proteksi Penangkal Petir pada Gedung Widya Puraya.(Online).( http://www.elektro.undip.ac.id/transmisi/jun06/7, diakses tanggal 25 oktober 2007)

Alvarion.Lightning Protection.(Online),(www.buildingdesign.co.uk, diakses tanggal
25 oktober 2007)

http://coretancempluk.files.wordpress.com/2010/02/tjurnal-t3.pdf

JURNAL SISTEM PROTEKSI PEMBANGKIT, SISTEM PROTEKSI GENERATOR DAN SISTEM PROTEKSI TRAFO PEMBANGKIT


SISTEM PROTEKSI PEMBANGKIT,  SISTEM PROTEKSI GENERATOR DAN SISTEM PROTEKSI TRAFO PEMBANGKIT

Nama : Irwan Rinaldi Saragi
Nim : 5103331017
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan

ABSTRAK
Sesuai dengan kemajuan zaman yang semakin lama semakin banyak jumlah manusia di dunia ini dan secar langsung akan mengakibatkan semakin banyak kebutuhan yang harus di sediakan oleh manusia tersebut. Diantara sekian banyak kebutuhan, maka kemajuan teknologi banyak membantu kepentingan manusia, diantaranya kemajuan dalam bidang tenaga listrik.
 Sistem proteksi pembangkit ataupun transmisi harus bekerja sesuai syaratnya diantaranya cepat bereaksi jika terjadi gangguan, selektif, peka/sensitif terhadap gangguan, andal/reliability, stabilitas dan ekonomis. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka akan mempengaruhi kinerja pembangkit. Dengan menganalisa besar arus gangguan dan hasil pencarian data gangguan baik di sisi GIS 150 kV maupun sisi PLTU 2 banten labuan. Diharapkan diketahui penyebab gangguan di Transmisi 150 kV Saketi dan proteksi apa yang menyebabkan pembangkit trip. Kehandalan suatu pembangkit sangat penting karena jika terjadi gangguan akan menyebabkan pembangkit kehilangan kesempatan produksi dan untuk start kembali membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.







PENDAHULUAN

Latar Belakang

Keandalan dan kemampuan suatu sistem tenaga listrik dalam melayani konsumen sangat tergantung pada sistem proteksi yang digunakan. Oleh sebab itu dalam perencangan suatu sistem tenaga listrik, perlu dipertimbangkan kondisi-kondisi gangguan yang mungkin terjadi pada sistem, melalui analisa gangguan.

Pada dasarnya gangguan dapat terjadi karena kegagalan operasi peralatan dalam sistem,  kesalahan manusia dan karena alam. Langkah yang dapat diambil untuk mencegah terjadinya gangguan antara lain dengan menggunakan isolasi yang baik, membuat koordinasi isolasi dan menghindarkan kesalahan operasi. Tetapi  langkah – langkah tersebut  dibatasi oleh faktor ekonomis dan alam. Karenanya para engineer sepakat : gangguan boleh saja terjadi dan tidak dapat dihindari namun dampaknya harus diminimisasi.



PEMBAHASAN

A. SISTEM PROTEKSI PEMBANGKIT

                                                                                                           
1.  PENGERTIAN DASAR

Nilai investasi peralatan listrik pada suatu pembangkit listrik sedemikian besarnya, sehingga perhatian yang khusus harus diutamakan agar setiap peralatan tidak hanya dapat beroperasi dengan efisiensi yang optimal, tetapi juga harus teramankan dari kecelakaan/kerusakan yang fatal.

Kerusakan yang fatal dapat menimbulkan :
1.      Kerugian biaya investasi.
2.      Kerugian operasi (long outage)
3.      Terganggunya pelayanan (service)

Untuk itu relai proteksi sangat diperlukan pada peralatan pembangkit. Hampir semua peralatan tidak dibiarkan beroperasi tanpa menggunakan peralatan proteksi. Relai Proteksi adalah suatu perangkat kerja proteksi yang mempunyai fungsi dan peranan :
a.       Memberikan signal alarm/melepas pemutus tenaga (circuit breaker) dengan tujuan mengisolir gangguan/kondisi yang tidak normal seperti adanya :
·        Beban lebih, tegangan rendah
·        Kenaikan suhu, beban tidak seimbang
·        Daya kembali, frekuensi rendah
·        Hubung singkat dan kondisi tidak normal lainnya
b.      Melepas/mentripkan peralatan yang berjalan tidak normal untuk mencegah timbulnya kerusakan. Contohnya : Proteksi beban lebih (overload) berfungsi untuk mengamankan mesin listrik dan kerusakan isolasi.
c.       Melepas/mentripkan peralatan yang terganggu secara cepat dengan tujuan mengurangi kerusakan yang lebih berat.
Contohnya : Bila suatu mesin listrik secara cepat distop/dilepas setelah terjadinya gangguan pada belitan, maka hanya sebagian kumparan saja yang perlu diperbaiki. Tetapi apabila gangguan terjadi secara terus-menerus maka kemungkinan seluruh belitan akan rusak dan memerlukan perbaikan total/overhoul.
d.      Melokalisir kemungkinan dampak akibat gangguan dengan memisahkan peralatan yang terganggu dari sistem. Peralatan yang terganggu dapat menyebabkan gangguan pada peralatan yang lain yang berada pada sistemnya.
e.       Melepas peralatan/bagian yang terganggu secara cepat dengan maksud menjaga stabilitas sistem, kontinuitas pelayanan dan unjuk kerja sistem.



  1. 4
     
    KLASIFIKASI RELAI PROTEKSI

No
ASAS KERJA
TIPE KONSTRUKSI
PENGGUNAAN
1
Tarikan Magnit Listrik (Electromagnetic Attraction)
a)      Plunger type
b)      Balanced beam type
c)      Hinged armature type
d)      Polarized moving iron type
e)      Permanent magnet moving coil type
Relai seketika (Instantaneous Relay)
2
Induksi Magnit Listrik (Electromagnetic Induction)
a)      Induction disc type
b)      Induction cup type
Relay dengan waktu tunda (Time Delay Relay)
3
Relai suhu/panas (Thermal Relay)
a)      Bimetal strip type
b)      Thermocouple type
c)      Electronic
Proteksi motor, generator dan trafo
4
Relai yang digerak-kan oleh gas
a)      Bucholz relay
b)      Sudden pressure relay  (gas pressure relay)
Proteksi trafo
5
Static relay
a)      Rangkaian elektronik
Complex protective system pada generator, motor

Tabel 2.1 Klasifikasi Relai Proteksi

  1.   SIMBOL DAN KODE RELAI PROTEKSI

No
NAMA RELAI
SIMBOL
KODE
1
Relai jarak (distance relay)
Z <
21
2
Relai periksa sinkron (Synchro check relay)
Uf=
25
3
Relai tegangan kurang (Under voltage relay)
U <
27
4
Relai daya balik (Reverse power relay)
        P
32
5
Relai arus kurang (Under current relay)
I <
37
6
Relai kehilangan medan penguat (Loss of excitation relay)
B = O
40
7
Relai urutan phasa negatif (Negatif sequence relay)
Ii >
46
8
Relai suhu (Thermal relay)

49
9
Relai arus lebih seketika ( Instantaneous Over current relay)
I >
50
10
Relai arus lebih dengan waktu tunda (Time Over current Relay)
I >
51
11
Relai fluksi lebih (Over excitation relay)
V/f
59/81
12
Relai tegangan lebih (Over voltage relay)
U >
59
13
Relai tegangan seimbang (Voltage balance relay)
Ud
60
14
Relai waktu tunda (Time auxiliary relay)
62
15
Relai tekanan gas (Gas pressure relay)
P
63
16
Relai hubung tanah (Ground fault relay)
64
17
Relai frekuensi (Frequency relay)
f
81
18
Lock out relay
86
19
Relai differensial (Differential Relay)
  I
87
20
Relai Bucholz

95

Tabel 2.2 Simbol dan Kode Relai Proteksi







B. SISTEM PROTEKSI GENERATOR


1.  MACAM-MACAM GANGGUAN PADA GENERATOR DAN AKIBATNYA

Macam-macam gangguan pada generator dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a.      Gangguan listrik/electrical fault
Jenis gangguan ini adalah gangguan yang timbul dan terjadi pada bagian-bagian listrik dari generator.
Gangguan-gangguan tersebut antara lain :
1.      Hubung singkat 3 phasa
Terjadinya arus lebih pada stator yang dimaksud adalah arus lebih yang timbul akibat terjadinya hubungan singkat 3 phasa/ 3 phase fault. Gangguan ini akan menimbulkan loncatan bunga api dengan suhu yang tinggi yang akan melelehkan belitan dengan resiko terjadinya kebakaran, jika isolasi tidak terbuat dari bahan yang anti api /nonflammable.

2.   Hubung singkat 2 phasa
Gangguan hubung singkat 2 phasa/unbalance fault lebih berbahaya dibanding gangguan hubung singkat 3 phasa/balance fault, karena disamping akan terjadi kerusakan pada belitan akan timbul pula vibrasi pada kumparan stator. Kerusakan lain yang timbul adalah pada poros/shaft dan kopling turbin akibat adanya momen puntir yang besar.

3.   Stator hubung singkat 1 phasa ke tanah/stator ground fault
      Kerusakan akibat gangguan 2 phasa atau antara konduktor kadang-kadang masih dapat diperbaiki dengan menyambung taping atau mengganti sebagian konduktor, tetapi kerusakan laminasi besi (iron lamination) akibat gangguan 1 phasa ke tanah yang menimbulkan bunga api dan merusak isolasi dan inti besi adalah kerusakan serius yang perbaikannya dilakukan secara total. Gangguan jenis ini meskipun kecil harus segera diproteksi.

4.   Rotor hubung tanah/field ground
Pada rotor generator yang belitannya tidak dihubungkan oleh tanah (ungrounded system). Bila salah satu sisi terhubung ke tanah belum menjadikan masalah. Tetapi apabila sisi lainnya terhubung ke tanah, sementara sisi sebelumnya tidak  terselesaikan maka akan terjadi kehilangan arus pada sebagian belitan yang terhubung singkat melalui tanah. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan fluksi yang menimbulkan vibrasi yang berlebihan serta kerusakan fatal pada rotor.

5.   Kehilangan medan penguat/Loss of excitation
Hilangnya medan penguat akan membuat putaran mesin naik, dan berfungsi sebagai generator induksi. Kondisi ini akan berakibat pada rotor dan pasak/slot wedges, akibat arus induksi yang bersirkulasi pada rotor. Kehilangan medan penguat dapat dimungkinkan oleh :

a)     

7
 
Jatuhnya/trip saklar penguat (41AC)
b)      Hubung singkat pada belitan penguat
c)      Kerusakan kontak-kontak sikat arang pada sisi penguat
d)      Kerusakan pada sistem AVR

6.   Tegangan lebih/Over voltage
Tegangan yang berlebihan melampaui batas maksimum yang diijinkan dapat berakibat tembusnya (breakdown) design insulasi yang akhirnya akan menimbulkan hubungan singkat antara belitan. Tegangan lebih dapat dimungkinkan oleh mesin putaran lebih/overspeed atau kerusakan pada pengatur tegangan otomatis/AVR.

b.  Gangguan mekanis/panas (mechanical/thermal fault)
      Jenis-jenis gangguan mekanik/panas antara lain :
1.   Generator berfungsi sebagai motor (motoring)
Motoring adalah peristiwa berubah fungsi generator menjadi motor akibat daya balik (reverse power).
Daya balik terjadi disebabkan oleh turunnya daya masukkan dari penggerak utama (prime mover). Dampak kerusakan akibat peristiwa motoring adalah lebih kepada penggerak utama itu sendiri. Pada turbin uap, peristiwa motoring akan mengakibatkan pemanasan lebih pada sudu-sudunya, kavitasi pada sudu-sudu turbin air, dan ketidakstabilan pada sudu turbin gas.

2.   Pemanasan lebih setempat
      Pemanasan lebih setempat pada sebagian stator dapat dimungkinkan oleh :
·        Kerusakan laminasi
·        Kendornya bagian-bagian tertentu di dalam generator seperti : pasak-pasak stator (stator wedges).

3.   Kesalahan paralel
Kesalahan dalam memparalel generator karena syarat-syarat sinkron tidak terpenuhi dapat mengakibatkan kerusakan pada bagian poros dan kopling generator, dan penggerak utamanya karena terjadinya momen puntir. Kemungkinan kerusakan lain yang timbul, kerusakan PMT dan kerusakan pada kumparan stator akibat adanya kenaikan tegangan sesaat.

4.   Gangguan pendingin stator
      Gangguan pada media sistem pendingin stator (pendingin dengan media udara, hidrogen, atau air) akan menyebabkan kenaikan suhu belitan stator. Apabila suhu belitan melampaui batas ratingnya akan berakibat kerusakan belitan.

c.  Gangguan sistem (system fault)
Generator dapat terganggu akibat adanya gangguan yang datang/terjadi pada sistem. Gangguan-gangguan sistem yang terjadi umumnya adalah :



8
 
1.   Frekuensi operasi yang tidak normal (abnormal frequency operation)
Perubahan frekuensi keluar dari batas-batas normal di sistem dapat berakibat ketidakstabilan pada turbin generator. Perubahan frekuensi sistem dapat dimungkinkan oleh tripnya unit-unit pembangkit atau penghantar (transmisi).

2.   Lepas sinkron (Loss of synhcron)
Adanya gangguan di sistem akibat perubahan beban mendadak, switching, hubung singkat dan peristiwa yang cukup besar akan menimbulkan ketidakstabilan sistem. Apabila peristiwa ini cukup lama dan melampaui batas-batas ketidakstabilan generator, generator akan kehilangan kondisi paralel. Keadaan ini akan menghasilkan arus puncak yang tinggi dan penyimpangan frekuensi operasi yang keluar dari seharusnya sehingga akan menyebabkan terjadinya stress pada belitan generator, gaya puntir yang berfluktuasi serta resonansi yang akan merusak turbin generator. Pada kondisi ini generator harus dilepas dari sistem.

3.   Arus beban kumparan yang tidak seimbang (unbalance armature current)
Pembebanan yang tidak seimbang pada sistem/adanya gangguan 1 phasa dan 2 phasa pada sistem yang menyebabkan beban generator tidak seimbang yang akan menimbulkan arus urutan negatif. Arus urutan negatif yang melebihi batas, akan mengiduksikan arus medan yang berfrekuensi rangkap yang arahnya berlawanan dengan putaran rotor akan menyebabkan adanya pemanasan lebih dan kerusakan pada bagian-bagian konstruksi rotor.

2.   MACAM-MACAM RELAI PROTEKSI GENERATOR DAN FUNGSINYA

No
Nama Relai
Fungsi Relai
1
Relai jarak (distance relay)
Untuk mendeteksi gangguan 2 phasa/ 3 phasa di muka generator sampai batas jangkauannya
2
Relai periksa sinkron (synchron check relay)
Pengaman bantu generator untuk mendeteksi persyaratan sinkronisasi atau paralel
3
Relai tegangan kurang (undervoltage relay)
Untuk mendeteksi turunnya tegangan sampai di bawah harga yang diijinkan
4
Relai daya balik (reverse power relay)
Untuk mendeteksi daya balik sehingga mencegah generator bekerja sebagai motor
5
Relai kehilangan medan penguat (loss of excita-tion relay)
Untuk mendeteksi kehilangan arus penguat pada rotor
6
Relai phasa urutan negatif (negative phase sequence relay)
Untuk mendeteksi arus urutan negatif yang disebabkan oleh beban tidak seimbang dari batas-batas yang diijinkan
7
Relai arus lebih seketika (instantaneous over cur-rent relay)
Untuk mendeteksi besaran arus yang melebihi batas yang ditentukan dalam waktu seketika
8
Relai arus lebih dengan waktu tunda (time over current relay)
Untuk mendeteksi besaran arus yang melebihi batas dalam waktu yang ditentukan
9
Relai penguat lebih (over excitation relay)
Untuk mendeteksi penguat lebih pada generator
10
Relai tegangan lebih (over voltage relay)
1.   Bila terpasang di titik netral generator atau trafo tegangan yang dihubungkan segitiga, untuk mendeteksi gangguan stator hubung tanah
2.   Bila terpasang pada terminal generator : untuk mendeteksi tegangan lebih
11
Relai keseimbangan te-gangan (voltage balance relay)
Untuk mendeteksi hilangnya tegangan dari trafo tegangan ke pengatur tegangan otomatis (AVR) dan ke relay
12
Relai waktu
Untuk memperlambat/mempercepat waktu
13
Relai stator gangguan tanah(stator ground fault relay)
Untuk mendeteksi gangguan hubung tanah pada stator
14
Relai kehilangan sinkroni-sasi (out of step relay)
Untuk mendeteksi kondisi asinkron pada generator yang sudah paralel dengan sistem
15
Relai pengunci (lock out relay)
Untuk menerima signal trip dari relai-relai proteksi dan kemudian meneruskan signal trip ke PMT, alarm, dan peralatan lain serta penguncinya
16
Relai frekuensi (frequen-cy relay)
Untuk mendeteksi besaran frekuensi rendah/lebih di luar harga yang ditentukan
17
Relai differensial (diffe- rential relay)
Untuk mendeteksi gangguan hubung singkat pada daerah yang diamankan

Tabel 3.1 Macam- macam Relai Proteksi Generator dan Fungsinya














DIAGRAM PROTEKSI PERALATAN PEMBANGKIT 

10
 
























Gambar 3.1 One Line Diagram Relai Proteksi Generator




C. SISTEM PROTEKSI TRAFO PEMBANGKIT


  1. MACAM-MACAM GANGGUAN PADA TRAFO PEMBANGKIT DAN   AKIBATNYA

Yang dimaksud transformator pembangkit dalam pembahasan ini adalah :
a.       Transformator Generator (Generator Transformer) / Transformator Utama (Main Transformer)
b.      Transformator bantu utama (Main Auxiliary Transformer) / Transformator Pemakaian Sendiri
c.       Transformator bantu cadangan (Reserve Auxiliary Transformer) / Transformer start (Starting Transformer)
d.      Transformator lainnya yang digunakan untuk pemakaian motor-motor bertegangan rendah

Macam-macam gangguan transformator pembangkit dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
A.  Gangguan luar / External fault
Gangguan luar dimaksud adalah gangguan yang diakibatkan oleh, atau terjadi di luar daerah pengamanan transformator yang dapat mengakibatkan kerusakan pada transformator. Contoh :
a.       Beban lebih/over load.
Pembebanan lebih yang melampaui kapasitasnya menyebabkan pemanasan yang berlebihan akibat kenaikan suhu.
Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan :
·        Memperpendek umur transformator/lifetime
·        Merusak isolasi dan material belitan
b.      Hubung singkat di sisi luar/external short circuit
Terjadinya hubung singkat phasa ke phasa atau phasa ke tanah di luar daerah pengaman transformator itu sendiri dapat merusak bagian-bagian transformer.

B.      Gangguan dalam / internal fault
Gangguan dalam yang dimaksud adalah gangguan yang bersumber dari dalam trafo itu sendiri. Gangguan dalam transformator dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.      Gangguan listrik / electrical fault
Gangguan ini tergolong gangguan berat yang dapat menyebabkan kerusakan pada bagian-bagian transformator. Gangguan ini biasanya dapat terdeteksi langsung oleh relai-relai arus dan tegangan.
Gangguan  tersebut antara lain :
·        Gangguan hubung singkat phasa ke phasa atau phasa ke tanah pada terminal belitan tinggi atau rendah
Gangguan hubung singkat phasa ke phasa atau phasa ke tanah pada belitan tinggi atau rendah.
·       

13
 
Hubung singkat diantara gulungan belitan tegangan tinggi atau rendah (interturn fault) yang disebabkan karena kerusakan laminasi di dalam gulungan
·        Hubung singkat pada belitan tertier

2.  Gangguan awal
Gangguan ini sering diistilahkan incipient fault yaitu gangguan yang tergolong ringan dan berawal dari gangguan kecil namun kemudian secara perlahan-lahan berkembang menjadi gangguan besar/berat dan mengakibatkan kerusakan, apabila tidak segera terdeteksi.
Keadaan gangguan seperti ini tidak dapat terdeteksi oleh relai-relai arus dan tegangan. Gangguan tersebut antara lain :
·        Kendornya baut-baut / ring pada terminal konduktor
·        Gangguan pada inti besi akibat kerusakan laminasi isolasi yang menimbulkan percikan bunga api di bawah minyak
·        Gangguan di sistem pendingin, seperti kerusakan pada pompa sirkulasi minyak, kipas pendingin dan bagian-bagian dari sistem pendingin lainnya yang dapat menyebabkan kenaikan suhu operasi yang tinggi sementara transformator masih beroperasi di bawah beban penuh
·        Adanya kemungkinan pengentalan minyak atau kebuntuan pada bagian-bagian tertentu, sehingga sirkulasi minyak menjadi terganggu yang dapat mengakibatkan pemanasan setempat atau lokal hot spot pada sebagian belitan.
·        Gangguan atau tidak berfungsinya bagian-bagian mekanik dari tap perubahan pembebanan atau load tap changer akibat pemasangan yang kurang sempurna (loss contact, getaran, dsb)
·        Kebocoran minyak dari bagian las-lasan, perapat packing, dsb.
·        Gangguan pada terminal bushing akibat adanya kontaminasi, keretakan, penuaan, binatang, dsb.


2.  MACAM-MACAM RELAI PROTEKSI TRAFO PEMBANGKIT DAN FUNGSINYA

No
Nama Relai
Fungsi Relai
1
Relai suhu
Relai ini adalah relai mekanis yang berfungsi mendeteksi suhu minyak dan kumparan secara langsung yang akan membunyikan alarm serta mengeluarkan/mentripkan PMT.
Relai suhu ini dipasang pada semua transformator
2
Relai beban lebih
Relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap suhu yang berlebihan akibat beban lebih
3
Relai Bucholz
Relai ini berfungsi untuk mendeteksi adanya gas yang ditimbulkan oleh loncatan bunga api dan pemanasan setempat dalam minyak transformator

14
 

4
Relai tekanan lebih (sudden pressure relay)
Bagi transformator tanpa konservator, dipasang relai tekanan mendadak yang dipasang pada tangki, dan bekerja dengan pertolongan membran.
Relai ini dipasang pada semua transformator.
5
Relai arus lebih
Relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap gangguan hubung singkat antar phasa di dalam maupun di luar daerah pengamanan transformator. Relai ini juga diharapkan mempunyai sifat komplementer dengan relai beban lebih. Relai ini berfungsi juga sebagai pengaman cadangan bagi bagian instalasi lainnya
6
Relai gangguan tanah
Relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap hubung tanah, di dalam dan di luar daerah pengamanan.
7
Relai differensial
Relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap gangguan hubung singkat yang terjadi di dalam daerah pengamanan transformator
8
Relai gangguan tanah terbatas (Restricted earth fault relay)
Relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap gangguan tanah dalam daerah pengamanan transformator khususnya untuk gangguan di dekat titik netral yang tidak dapat dirasakan oleh relai differensial
9
Relai fluksi lebih
Relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator generator. Relai ini mendeteksi besaran fluksi /perbandingan tegangan dan frekuensi

 Tabel 4.1 Macam- macam Relai Proteksi Trafo Pembangkit dan Fungsinya



DAFTAR PUSTAKA


2. http://www.scribd.com/puji_wibowo_1/d/89557276/11-MACAM-MACAM-RELAI-PROTEKSI-TRAFO-PEMBANGKIT-DAN-FUNGSINYA